Duta Pencegahan Karhutla, Cara Perusahaan Sukanto Tanoto Tanamkan Kepedulian Lingkungan pada Generasi Muda

Sumber: asianagri.com

Dalam periode Januari – Agustus 2019, tercatat ada 328.724 hektar lahan yang terbakar di Indonesia. Meski tidak semuanya terjadi secara sengaja, banyak di antaranya yang dipicu secara sengaja demi perkebunan sawit. Sebagian besar lahan yang terbakar ini berada di Riau. Tak mengherankan, perusahaan Sukanto Tanoto yang juga beroperasi di kawasan tersebut begitu aktif memerangi karhutla dengan berbagai program andalannya.

Riau bukanlah satu-satunya provinsi yang mendapat perhatian Sukanto Tanoto dan grup bisnis yang ia dirikan, Royal Golden Eagle. Selain Riau, Jambi juga masuk dalam radar perusahaan Sukanto Tanoto dalam program pencegahan karhutla. Bahkan demi meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar akan bahaya karhutla, Asian Agri yang merupakan salah satu unit bisnis RGE ikut menggandeng generasi muda yang tinggal di sekitar area operasional.

Bahaya Kebakaran Hutan dan Lahan

Karhutla atau kebakaran hutan dan lahan merupakan sebuah fenomena yang umumnya terjadi pada musim kemarau, saat daun dan batang pohon mengering. Dalam kondisi seperti ini, sedikit percikan api bisa menyulut kebakaran.

Memang tidak semua kasus karhutla disebabkan oleh ulah tangan manusia. Akan tetapi, banyak di antaranya yang terjadi karena disengaja demi membuka lahan baru atau membuka lahan lama untuk ditanami tanaman yang baru.

Bahaya karhutla bisa berasal dari 2 hal, yakni api dan kabut asap. Namun jika dibandingkan dengan bahaya api, bahaya kabut asap memiliki dampak yang jauh lebih luas. Tidak jarang asap yang dihasilkan bisa mencapai negara tetangga dan mengganggu aktivitas masyarakat sekitar.

Ancaman kabut asap sepintas memang terlihat sepele. Namun saat menilik senyawa yang terkandung di dalamnya dan dampak yang bisa diakibatkan, jelas tidak ada yang sepele sama sekali.

Dalam kabut asap terdapat senyawa SO2 (Sulfur Dioksida), O3 (Ozon Permukaan), NO2 (Nitrogen Dioksida), CO (Karbon Monoksida), PM10 (partikel debu), Formaldehid, Akrelein dan Benzen. Senyawa-senyawa tersebut bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan saat terhirup.

Misalnya saja SO2. Senyawa ini dapat membuat saluran nafas mengecil dan memicu iritasi pada selaput lendir pernafasan. Sedangkan NO2, senyawa ini bisa merusak sistem pembersihan alami paru-paru dan menurunkan sistem imun.

Mengingat senyawa yang terkandung di dalamnya, tidak mengherankan jika orang yang menghisapnya akan mengalami gangguan kesehatan seperti ISPA atau asma. Bahkan dalam beberapa kasus, kabut asap juga bisa menjadi penyebab hilangnya nyawa.

Duta Pencegahan Karhutla untuk Jambi dan Indonesia

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya karhutla, salah satu unit bisnis Sukanto Tanoto, yakni Asian Agri mengadakan acara bertajuk Duta Pencegahan Karhutla yang diselenggarakan di SD N 10/VIII Tuo Sumay, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo pada 18 Oktober 2019 lalu.

Dalam acara tersebut, Asian Agri menjelaskan kepada siswa-siswi akan pengertian karhutla, penyebabnya hingga dampak yang dapat ditimbulkan. Ada juga sesi diskusi untuk membantu memperdalam pemahaman para peserta.

Duta Pencegahan Karhutla sendiri bukan hanya sekedar program sosialisasi. Program ini juga merupakan salah satu cara perusahaan Sukanto Tanoto untuk mendidik generasi muda akan pentingnya menjaga lingkungan dan mencegah kebakaran hutan dan lahan.

Melalui program ini, diharapkan para siswa dan siswi dapat menyebarkan ilmu yang mereka peroleh. Bukan hanya itu saja, dengan semakin tertanamnya kesadaran akan bahaya karhutla, para peserta juga diharapkan bisa membantu mengingatkan siapa pun yang ingin membakar hutan dan lahan.

Komitmen Asian Agri untuk menjaga lingkungan dan memerangi karhutla tidak hanya dilakukan melalui sosialisasi. Perusahaan Sukanto Tanoto tersebut juga ikut menerapkan praktek bisnis yang bertanggung jawab, ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *